Kemarin malam, seorang kawan melemparkan sebuah pertanyaan lewat pesan di BBM, “Udah pernah baca buku A9ama Saya Adalah Jurnalisme?”. Saya bisa langsung menebak kemana arah pembicaraannya. Yang akhirnya memaksa saya untuk membuka dan memahami kembali buku bersampul merah marun ini.

Andreas Harsono dalam bunga rampainya tersebut menjelaskan bahwa Jurnalisme Islam adalah suatu yang naif. “Sudahlah enggak usah repot-repot bikin paper soal “jurnalisme Islami.” Orang Madura bilang, “Ndek lakona.” Kayak gak punya kerjaan saja. Ini menghabiskan tenaga untuk sesuatu yang tidak ada,” tulisnya. Sehingga, perlu dipikirkan lebih dalam, format seperti apa yang kiranya tepat untuk media ini.

Berikut saya kutipkan penggalan tulisan Andreas Harsono yang berjudul Quo Vadis Jurnalisme Islami, sebagai berikut:

             Tidakkah Zaim Uchrowi dan Nurul Hamami, keduanya wartawan Republika, yang memiliki target pasar warga muslim, mengatakan sendiri kepada Anda bahwa jurnalisme tidak bisa dibagi-bagi dengan agama. Singkatnya, tidak ada jurnalisme Islami.”
Mari kita lihat argumentasi para ‘pakar’ tersebut!
“…jurnalisme Islam, dapat dimaknakan sebagai sebagais suatu proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan muatan nilai-nilai Islam, serta berbagai pandangan dengan perspektif ajaran Islam kepada khalayaknya. Jurnalisme Islam dapat pula dimaknai sebagai proses pemberitaan atau pelaporan tentang berbagai hal yang sarat dengan dan sosialisasi nilai-nilai Islam dengan mengedepankan dakwah Islamiyah.”
Apa bedanya dengan propaganda? Kalau suatu jurnalisme dikaitkan dengan pemahaman lain, entah itu fasisme, komunisme, kapitalisme atau agama apapun, definisi yang lebih tepat, saya kira, adalah propaganda.
Propaganda adalah suatu peliputan, penulisan serta penyajian informasi di mana fakta-fakta itu disajikan, termasuk ditekan dan diperkuat pada bagian tertentu, agar selaras dengan kepentingan ideologi atau kekuasaan yang memanipulasi komunikasi tersebut.
Jurnalisme adalah bagian dari komunikasi. Namun, tak semua elemen komunikasi adalah jurnalisme. Propaganda maupun dakwah juga bagian dari komunikasi. Namun, menyamakan propaganda dengan jurnalisme, saya rasa akan menciptakan kebingungan yang serius dengan menciptakan kebingungan yang serius dengan daya rusak besar.
Coba kita ganti kata “jurnalisme”  dengan “dakwah” dalam frasa “jurnalisme Islami.”
“…dakwah Islam, dapat dimaknakan sebagai sebagai suatu proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan muatan nilai-nilai Islam, serta berbagai pandangan dengan perspektif ajaran Islam kepada khalayaknya. Jurnalisme Islam dapat pula dimaknai sebagai proses pemberitaan atau pelaporan tentang berbagai hal yang sarat dengan dan sosialisasi nilai-nilai Islam dengan mengedepankan dakwah Islamiyah.”

Kalaupun pada akhirnya impian membuat media Islam ini dianggap terlalu naif untuk diwujudkan, sebagai alternatif, mungkin kita bisa mengambil referensi dari beberapa kanal berikut:

Seperti halnya kanal Selasar.com, wadah yang dijadikan Ideas Marketplace. Tempat dimana ide dipasarkan.  Setiap orang yang memiliki potensi, ide, dan karya, dapat membangun panggung kredibilitas mereka masing-masing. Mereka dapat menawarkan dan juga mempromosikan skill dan ide yang mereka miliki ke khalayak luas. Baik berupa tulisan, audio maupun video.

Apa yang membedakan dengan website lainnya?

Jika portal lain umumnya menyajikan berita dari para jurnalis, kanal ini akan menyajikan gagasan atau opini yang berkaitan dengan hal-hal tertentu. User juga dapat menikmati perdebatan atas isu dan gagasan yang dilakukan oleh para user lain terkait dengan hal-hal tertentu yang telah dihidangkan melalui artikel dari para kontributor, berita dan informasi-informasi khas kanal ini.

Pembeda penting lainnya adalah, kanal ini menyediakan ruang ngobrol dan diskusi yang seru di komentarnya. Interaksi antar kontributor dan user juga sangat dimungkinkan dalam portal ini. Setiap user dapat berpartisipasi aktif dalam setiap hal yang disajikan sehingga suatu pembahasan atas sebuah tema tertentu akan jadi sebuah diskusi serta proses dialektika yang dinamis dan menarik.

Inginnya, media ini juga menjadi sarana para ‘pakar’ dalam memasarkan ide yang dianggapnya paling ideal sebagai alternatif solusi permasalahan umat Islam. Seperti halnya Indonesianreview.com, Kompasiana.com dan kanal-kanal Ideas Marketplace lainnya yang bisa kita adopsi untuk format media ini.

Kata mereka tentang #PatunganBikinMediaIslam

Salah satu pertanyaan yang saya masukan dalam angket Riset Media Islam lalu diantaranya, “Deskripsikan secara singkat, media Islam seperti apa yang Anda inginkan?” Dari sekian responden yang memberi tanggapan, sebagian dari mereka inginnya media ini dijadikan sebagai wadah semua golongan, khususnya anak muda, menyuarakan gagasannya.

Mari simak sedikit ungkapan deskripsi yang digambarkan salah satu responden, “Harapan saya terhadap media online Islam ini, nantinya akan membantu kita semua masyarakat muslim diseluruh dunia, sepaham, se-visi dan misi, juga memiliki arah dan tujuan yang jelas. Media online islam ini sebagai tonggak dari the real of Islam. Di sana tidak hanya terdapat kajian-kajian tentang ke Islaman, tapi juga informasi yang berbobot berkaitan dengan ekonomi, politik, sosial, budaya, dan pendidikan dalam perspektif islam juga ditanggapi dalam perspektif Islam. Kemudian, dijadikan sebagai lahan diskusi kawula muda yang berilmu menanggapi berbagai rintangan yang sedang dihadapi umat Islam saat ini. Pada hakikatnya, harapan saya, media online Islam ini adalah sebuah media yang bisa menjadi motivasi untuk kita umat Islam disamping sebagai lahan dakwah. Syukron,” ungkapnya.

 

Malang, 1 Februari 2016 | @adecsutrisna

Bantu kami mengetahui kebutuhan masyarakat terhadap media Islam dengan mengisi formulir ini: http://goo.gl/forms/2Yp25s2jqe

Atau ingin diskusi lebih jauh seputar #PatunganBikinMediaIslam, bergabunglah dengan official account LINE #PatunganMediaIslam lewat tautan berikut: http://line.me/ti/p/%40jem9629f

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s