Sinyal Postif Penerapan Syariat Terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi Indonesia*

ISLAM sebagai sistem hidup tidak begitu saja tumbang di tengah pergumulan ‘isme-isme’ yang belakangan gencar memasarkan gagasannya. Sebaliknya Islam bersemi, tumbuh dan berbuah menjadi sistem hidup yang paripurna dan dianggap paling ideal untuk dibuktikan keunggulannya. Di tengah fluktuatifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, Islam hadir-bukan sekedar menjadi akternatif-tapi satu-satunya jalan yang harus ditempuh sebagai bentuk konsekuensi peng-Esa-an terhadap Allah SWT.

Berangkat dari hal tersebut, strategi ekonomi-politik yang diterapkan mestilah strategi yang tepat dan telah terbukti keberhasilannya. Dengan karakter Indonesia yang beragam, Islam dirasa mampu membangun optimisme lewat penerapan syariat di setiap sektor kehidupan.

Perubahan Perilaku Konsumen Muslim Indonesia

Sebuah penelitian yang dilakukan lembaga think-thank, Center for Middle Class Consumer Studies (CMCS)[1], selama setahun terakhir intensif melakukan pengamatan terhadap pasar muslim di Indonesia, khususnya kelas menengahnya. CMCS melakukan penelitian survey kuantitatif di lima kota dan kualitatif berupa FGD untuk mengungkap perubahan, nilai-nilai, dan perilaku pasar tersebut. Proyek riset pasar tersebut terbilang mencengangkan. Tak cuma potensinya yang luar biasa besar (Kini jumlah konsumen muslim mencapai 87 persen dari seluruh penduduk Indonesia), tetapi juga dinamika perubahannya beberapa tahun terakhir juga mencengangkan.

Meski survey tersebut kurang bisa merepresentasikan (bahkan cenderung men-generalisir dan baru dilihat pada satu kelas ekonomi)[2], riset ini mengisyaratkan sinyal positif terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pada dunia perbankan misalnya. Sejak pertama kali dirintis, Bank Muamalat pada tahun 1991, bank syariah di Indonesia tumbuh luar biasa mencapai hampir 40% tiap tahunnya, jauh melebihi pertumbuhan  bank konvensional yang tak sampai 20%. Memang penetrasinya melum mencapai 5% (total aset) dari total pasar perbankan, namun geliat perkembangannya sungguh menjanjikan. Hingga akhir 2013 setidaknya kita telah memiliki 11 bank umum syariah (BUS), 23 bank syariah dalam bentuk unit usaha syariah  (UUS), dan 160 bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS). Kantor cabangnya mencapai 2.925 dan telah menggaet sekitar 12 juta lebih akun nasabah dengan dana pihak ketiga (DPK) yang diraup mencapai lebih dari 175 triliun.

Membantah Positivisme Comte 

Fenomena ini sekaligus membantah pernyataan Jujun S. Suriasumantri, dalam bukunya yang sangat terkenal, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer[3], ia mengutip pendapat Auguste Comte (1798-1857) yang membagi tiga tingkat perkembangan pengetahuan manusia, yaitu religius, metafisik, dan positif. Selanjutnya diuraikan oleh Jujun:

“Dalam tahap pertama maka asas religilah yang dijadikan postulat ilmiah sehingga ilmu merupakan dedukasi atau penjabaran dari ajaran religi. Tahap kedua orang mulai berspekulasi tentang metafisika (keberadaan) ujud yang menjadi objek penelaahan yang terbebas dari dogma religi dan mengembangkan sistem pengetahuan ilmiah, (ilmu) di mana asas-asas yang dipergunakan diuji secara positif dalam proses verifikasi yang objektif.” (hlm. 25)

Jika ditelaah uraian pada buku tersebut, akan dijumpai problematika yang serius. Teori positivisme Comte-dalam perspektif Islam-jelas sangat bermasalah. Sebab, ia meletakan agama sebagai jenis pengetahuan yang paling primitif dan akan punah saat manusia memasuki era positivisme atau empirisisme. Teori Comte ini pun tidak terbukti. Sebab, manusia-di Barat dan di Timur-di tengah perkembangan yang fantastis dari sains dan teknologi, tetap memegang kepercayaan yang bersifat metafisik dan juga agama.

Makin Sejahtera, Semakin Religius

Argumentasi di atas diperkuat oleh hasil survey Gallup[4] di dunia tahun 2009, Indonesia masuk dalam daftar 10 negara paling religius, yakni menempati posisi ke-4. Gallup menemukan bahwa 99 persen orang Indonesia menilai agama merupakan hal penting dalam kehidupan keseharian mereka. Bahkan Gallup menyebut bahwa Indonesia sebagai Paradox. Hasil riset Gallup menemukan bahwa pada umumnya ketika suatu negara mengalami peningkatan pendapatan perkapita maka masyarakat di dalamnya akan semakin sekuler. Alih-alih sekuralisasi yang terjadi di Indonesia, justru Islamisasi yang marak terjadi.

Agama dinilai sebagai faktor penting dalam kehidupan keseharian mereka. Hal ini dapat kita lihat pada fenomena di berbagai hal. Umpanya semakin banyaknya orang Indonesia mengenakan hijab, tingginya kebutuhan mushola di berbagai fasilitas umum seperti mal, kafe atau restoran, tingginya minat masyarakat terhadap sekolah berpendidikan keagamaan, tumbuhnya industri-industri yang sesuai ketentuan syariah, sensitifnya isu label halal dalam makanan ataupun kosmetik, menjamurnya berbagai outlet atau online store hijab, maraknya dunia hiburan berbau keagamaan, ramainya Islamic Book Fair, dan lainnya.

Memilih Pemimpin Berakhlak

Optimisme tersebut diperkuat lagi lewat keberhasilan gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Zainul Majdi membawa provinsi yang dipimpinnya menjadi provinsi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi dibanding provinsi lainnya di Indonesia.

Pada tahun 2015, NTB tumbuh dengan baik. Dari sektor perekonomin, pertumbuhan ekonominnya mencapai 21 persen. Pertumbuhan yang tertinggi dibanding seluruh provinsi di Republik Indonesia. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi itu, pada saat yang sama tingkat kemiskinan di NTB dalam satu tahun terakhir menurun 0,56 persen. Yang juga patut disyukuri  bahwa tingkat kedalaman kemiskinan juga menurun, tingkat keparahan kemiskinan juga menurun. Pada saat yang sama juga, tingkat ketimpangan provinsi NTB dari Maret 2015 ke September 2015 turun dari 0,37 persen menjadi 0,29 persen. Nilai tersebut merupakan rasio terendah dari sekian provinsi yang ada di Indonesia.

Gubernur yang melanjutkan studi doktoralnya dari Universitas Al Azhar Kairo, selain dinobatkan oleh Museum Rekor dunia sebagai Indonesia (MURI) sebagai “Gubernur Paling Muda” kepada Muhammad Zainul Majdi, karena saat dilantik sebagai gubernur NTB pada tanggal 17 September 2008 usianya 36 tahun 3 bulan 17 hari.

Meski tidak berkorelasi secara langsung, namun faktor pemimpin berakhlak perlu kiranya kita yakini memberi keberkahan tersendiri pada jalannya roda pemerintahan. Seperti keberkahan yang juga dirasakan kaum muslimin saat dipimpin oleh khalifah-khalifah Rasulullah (khulafaur rasyidin). Abu Bakar yang dikenal dengan kelembutannya, Umar yang dikenal dengan ketegasannya, Utsman yang dikenal dengan kedermawanannya, dan Ali yang dikenal dengan keilmuannya, seolah memberi keberkahan tersendiri bagi sebuah pemerintahan yang baru “seumur jagung” itu. Wilayah kekuasaan Islam pada waktu itu membentang luas menyusuri Jazirah Arab dan Afrika. Jika Islam bukan agama yang benar turun dari Allah, sudah pasti ia sudah mati setelah kematian Muhammad Saw.

Ekonomi Akhlak

Dalam wacana penerapaan syariat di setiap sektor kehidupan, khususnya ekonomi, ada satu faktor yang tidak akan diperoleh dari konsep maupun sistem manapun. Yakni akhlak, yang menjadi tolak ukur keberhasilan sistem ini.

Penulis Perancis, Jack Aster, dalam bukunya “Islam dan Perkembangan Ekonomi” berkata: “Islam adalah sebuah sistem hidup yang aplikatif dan secara bersamaan mengandung nilai-nilai akhlak yang tinggi. Kedua hal ini berkaitan erat, tidak pernah terpisah satu dengan yang lainnya. Dari sini bisa dipastikan bahwa kaum Muslimin tidak akan menerima sistem ekonomi kapitalis. Ekonomi yang mengambil kekuatannya dari wahyu al-Quran pasti ekonomi yang berakhlak. Akhlak ini mampu memberikan makna baru terhadap konsep nilai, dan mampu mengisi kekosongan pikiran yang nyaris muncul akibat alat industrialisasi.[5]

Hal ini mengisyaratkan bahwa sistem Islam yang disampaikan melalui risalah Nabi Muhammad saw, begitu sempurna. “Sesungguhnya tiadalah aku diutus, melainkan hanya untuk menyempurnakan akhlak.”

Peran IMM dalam Mewujudkannya

Sinyal  tersebut rupanya direspon baik oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada awal Maret 2016 lalu menggelar kegiatan Entrepreneur Youth Camp di Universitas Muhammadiyah Malang. Direktur Badan Usaha Milik Ikatan (BUMI) DPP IMM Syamsul Basyri Nasution menjelaskan seperti ditulis RMOL.com, kegiatan tersebut memberikan gambaran kepada masyarakat jika organisasi kemahasiswaan tidak hanya bicara di tataran akademis saja. “Ini adalah cara baru kami untuk mengajak mengeksekusi ide-ide para mahasiswa khusus di bidang kewirausahaan untuk dijadikan sebuah aksi,” ujarnya.[6]

IMM sebagai NGO[7] berperan penting di kalangan pemuda dalam membangun dan mengawal cita-cita mewujudkan Indonesia baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Seperti pada prinsip religiusitas dalam tri kompetensi dasar yang di anut, “Dari Islam kita berangkat (Islam sebagai landasan, asas, pedoman hidup) dan kepada Islam kita berproses (sebagai cita-cita)”. Semoga.

*Tulisan ini sebagai persyaratan mengikuti Darul Arqom Madya 2016 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Malang 

 

Malang, 5 April 2016 | @adecsutrisna

 

 

[1] Didirikan oleh Inventure bersama Majalah SWA, sebuah majalah Marketing di Indonesia

[2] Dalam penelitian kuantitatif dikenal dengan metode ‘sampling sistematis’. Yakni periset terlebih dahulu merandom untuk sample pertama, sedangkan data berikutnya menggunakan interval tertentu. Misalnya akan diambil 100 sampel dalam 1000 populasi. (Yuswohadi, 2013: 115)

[3] Dr. Adian Husaini dalam Filsafat Ilmu: Persprektif Barat dan Islam

[4] Sebuah lembaga survey opini publik

[5] Dalam buku Dr. Yusuf Al Qardhawi: Peran Nilai dan Moral dalam Perkonomian Islam

[6] Dikutip dari http://www.rmol.co/read/2016/03/05/238311/IMM-Gali-Dan-Kembangkan-Potensi-Wirausaha-Kalangan-Muda-

[7] Non Governmental Organisation (Organisasi Non Pemerintahan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s