Sinyal Postif Penerapan Syariat Terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi Indonesia*

ISLAM sebagai sistem hidup tidak begitu saja tumbang di tengah pergumulan ‘isme-isme’ yang belakangan gencar memasarkan gagasannya. Sebaliknya Islam bersemi, tumbuh dan berbuah menjadi sistem hidup yang paripurna dan dianggap paling ideal untuk dibuktikan keunggulannya. Di tengah fluktuatifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, Islam hadir-bukan sekedar menjadi akternatif-tapi satu-satunya jalan yang harus ditempuh sebagai bentuk konsekuensi peng-Esa-an terhadap Allah SWT.

Berangkat dari hal tersebut, strategi ekonomi-politik yang diterapkan mestilah strategi yang tepat dan telah terbukti keberhasilannya. Dengan karakter Indonesia yang beragam, Islam dirasa mampu membangun optimisme lewat penerapan syariat di setiap sektor kehidupan.

Perubahan Perilaku Konsumen Muslim Indonesia

Sebuah penelitian yang dilakukan lembaga think-thank, Center for Middle Class Consumer Studies (CMCS)[1], selama setahun terakhir intensif melakukan pengamatan terhadap pasar muslim di Indonesia, khususnya kelas menengahnya. CMCS melakukan penelitian survey kuantitatif di lima kota dan kualitatif berupa FGD untuk mengungkap perubahan, nilai-nilai, dan perilaku pasar tersebut. Proyek riset pasar tersebut terbilang mencengangkan. Tak cuma potensinya yang luar biasa besar (Kini jumlah konsumen muslim mencapai 87 persen dari seluruh penduduk Indonesia), tetapi juga dinamika perubahannya beberapa tahun terakhir juga mencengangkan.

Meski survey tersebut kurang bisa merepresentasikan (bahkan cenderung men-generalisir dan baru dilihat pada satu kelas ekonomi)[2], riset ini mengisyaratkan sinyal positif terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pada dunia perbankan misalnya. Sejak pertama kali dirintis, Bank Muamalat pada tahun 1991, bank syariah di Indonesia tumbuh luar biasa mencapai hampir 40% tiap tahunnya, jauh melebihi pertumbuhan  bank konvensional yang tak sampai 20%. Memang penetrasinya melum mencapai 5% (total aset) dari total pasar perbankan, namun geliat perkembangannya sungguh menjanjikan. Hingga akhir 2013 setidaknya kita telah memiliki 11 bank umum syariah (BUS), 23 bank syariah dalam bentuk unit usaha syariah  (UUS), dan 160 bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS). Kantor cabangnya mencapai 2.925 dan telah menggaet sekitar 12 juta lebih akun nasabah dengan dana pihak ketiga (DPK) yang diraup mencapai lebih dari 175 triliun.

Membantah Positivisme Comte 

Fenomena ini sekaligus membantah pernyataan Jujun S. Suriasumantri, dalam bukunya yang sangat terkenal, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer[3], ia mengutip pendapat Auguste Comte (1798-1857) yang membagi tiga tingkat perkembangan pengetahuan manusia, yaitu religius, metafisik, dan positif. Selanjutnya diuraikan oleh Jujun:

“Dalam tahap pertama maka asas religilah yang dijadikan postulat ilmiah sehingga ilmu merupakan dedukasi atau penjabaran dari ajaran religi. Tahap kedua orang mulai berspekulasi tentang metafisika (keberadaan) ujud yang menjadi objek penelaahan yang terbebas dari dogma religi dan mengembangkan sistem pengetahuan ilmiah, (ilmu) di mana asas-asas yang dipergunakan diuji secara positif dalam proses verifikasi yang objektif.” (hlm. 25)

Jika ditelaah uraian pada buku tersebut, akan dijumpai problematika yang serius. Teori positivisme Comte-dalam perspektif Islam-jelas sangat bermasalah. Sebab, ia meletakan agama sebagai jenis pengetahuan yang paling primitif dan akan punah saat manusia memasuki era positivisme atau empirisisme. Teori Comte ini pun tidak terbukti. Sebab, manusia-di Barat dan di Timur-di tengah perkembangan yang fantastis dari sains dan teknologi, tetap memegang kepercayaan yang bersifat metafisik dan juga agama.

Makin Sejahtera, Semakin Religius

Argumentasi di atas diperkuat oleh hasil survey Gallup[4] di dunia tahun 2009, Indonesia masuk dalam daftar 10 negara paling religius, yakni menempati posisi ke-4. Gallup menemukan bahwa 99 persen orang Indonesia menilai agama merupakan hal penting dalam kehidupan keseharian mereka. Bahkan Gallup menyebut bahwa Indonesia sebagai Paradox. Hasil riset Gallup menemukan bahwa pada umumnya ketika suatu negara mengalami peningkatan pendapatan perkapita maka masyarakat di dalamnya akan semakin sekuler. Alih-alih sekuralisasi yang terjadi di Indonesia, justru Islamisasi yang marak terjadi.

Agama dinilai sebagai faktor penting dalam kehidupan keseharian mereka. Hal ini dapat kita lihat pada fenomena di berbagai hal. Umpanya semakin banyaknya orang Indonesia mengenakan hijab, tingginya kebutuhan mushola di berbagai fasilitas umum seperti mal, kafe atau restoran, tingginya minat masyarakat terhadap sekolah berpendidikan keagamaan, tumbuhnya industri-industri yang sesuai ketentuan syariah, sensitifnya isu label halal dalam makanan ataupun kosmetik, menjamurnya berbagai outlet atau online store hijab, maraknya dunia hiburan berbau keagamaan, ramainya Islamic Book Fair, dan lainnya.

Memilih Pemimpin Berakhlak

Optimisme tersebut diperkuat lagi lewat keberhasilan gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Zainul Majdi membawa provinsi yang dipimpinnya menjadi provinsi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi dibanding provinsi lainnya di Indonesia.

Pada tahun 2015, NTB tumbuh dengan baik. Dari sektor perekonomin, pertumbuhan ekonominnya mencapai 21 persen. Pertumbuhan yang tertinggi dibanding seluruh provinsi di Republik Indonesia. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi itu, pada saat yang sama tingkat kemiskinan di NTB dalam satu tahun terakhir menurun 0,56 persen. Yang juga patut disyukuri  bahwa tingkat kedalaman kemiskinan juga menurun, tingkat keparahan kemiskinan juga menurun. Pada saat yang sama juga, tingkat ketimpangan provinsi NTB dari Maret 2015 ke September 2015 turun dari 0,37 persen menjadi 0,29 persen. Nilai tersebut merupakan rasio terendah dari sekian provinsi yang ada di Indonesia.

Gubernur yang melanjutkan studi doktoralnya dari Universitas Al Azhar Kairo, selain dinobatkan oleh Museum Rekor dunia sebagai Indonesia (MURI) sebagai “Gubernur Paling Muda” kepada Muhammad Zainul Majdi, karena saat dilantik sebagai gubernur NTB pada tanggal 17 September 2008 usianya 36 tahun 3 bulan 17 hari.

Meski tidak berkorelasi secara langsung, namun faktor pemimpin berakhlak perlu kiranya kita yakini memberi keberkahan tersendiri pada jalannya roda pemerintahan. Seperti keberkahan yang juga dirasakan kaum muslimin saat dipimpin oleh khalifah-khalifah Rasulullah (khulafaur rasyidin). Abu Bakar yang dikenal dengan kelembutannya, Umar yang dikenal dengan ketegasannya, Utsman yang dikenal dengan kedermawanannya, dan Ali yang dikenal dengan keilmuannya, seolah memberi keberkahan tersendiri bagi sebuah pemerintahan yang baru “seumur jagung” itu. Wilayah kekuasaan Islam pada waktu itu membentang luas menyusuri Jazirah Arab dan Afrika. Jika Islam bukan agama yang benar turun dari Allah, sudah pasti ia sudah mati setelah kematian Muhammad Saw.

Ekonomi Akhlak

Dalam wacana penerapaan syariat di setiap sektor kehidupan, khususnya ekonomi, ada satu faktor yang tidak akan diperoleh dari konsep maupun sistem manapun. Yakni akhlak, yang menjadi tolak ukur keberhasilan sistem ini.

Penulis Perancis, Jack Aster, dalam bukunya “Islam dan Perkembangan Ekonomi” berkata: “Islam adalah sebuah sistem hidup yang aplikatif dan secara bersamaan mengandung nilai-nilai akhlak yang tinggi. Kedua hal ini berkaitan erat, tidak pernah terpisah satu dengan yang lainnya. Dari sini bisa dipastikan bahwa kaum Muslimin tidak akan menerima sistem ekonomi kapitalis. Ekonomi yang mengambil kekuatannya dari wahyu al-Quran pasti ekonomi yang berakhlak. Akhlak ini mampu memberikan makna baru terhadap konsep nilai, dan mampu mengisi kekosongan pikiran yang nyaris muncul akibat alat industrialisasi.[5]

Hal ini mengisyaratkan bahwa sistem Islam yang disampaikan melalui risalah Nabi Muhammad saw, begitu sempurna. “Sesungguhnya tiadalah aku diutus, melainkan hanya untuk menyempurnakan akhlak.”

Peran IMM dalam Mewujudkannya

Sinyal  tersebut rupanya direspon baik oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada awal Maret 2016 lalu menggelar kegiatan Entrepreneur Youth Camp di Universitas Muhammadiyah Malang. Direktur Badan Usaha Milik Ikatan (BUMI) DPP IMM Syamsul Basyri Nasution menjelaskan seperti ditulis RMOL.com, kegiatan tersebut memberikan gambaran kepada masyarakat jika organisasi kemahasiswaan tidak hanya bicara di tataran akademis saja. “Ini adalah cara baru kami untuk mengajak mengeksekusi ide-ide para mahasiswa khusus di bidang kewirausahaan untuk dijadikan sebuah aksi,” ujarnya.[6]

IMM sebagai NGO[7] berperan penting di kalangan pemuda dalam membangun dan mengawal cita-cita mewujudkan Indonesia baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Seperti pada prinsip religiusitas dalam tri kompetensi dasar yang di anut, “Dari Islam kita berangkat (Islam sebagai landasan, asas, pedoman hidup) dan kepada Islam kita berproses (sebagai cita-cita)”. Semoga.

*Tulisan ini sebagai persyaratan mengikuti Darul Arqom Madya 2016 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Malang 

 

Malang, 5 April 2016 | @adecsutrisna

 

 

[1] Didirikan oleh Inventure bersama Majalah SWA, sebuah majalah Marketing di Indonesia

[2] Dalam penelitian kuantitatif dikenal dengan metode ‘sampling sistematis’. Yakni periset terlebih dahulu merandom untuk sample pertama, sedangkan data berikutnya menggunakan interval tertentu. Misalnya akan diambil 100 sampel dalam 1000 populasi. (Yuswohadi, 2013: 115)

[3] Dr. Adian Husaini dalam Filsafat Ilmu: Persprektif Barat dan Islam

[4] Sebuah lembaga survey opini publik

[5] Dalam buku Dr. Yusuf Al Qardhawi: Peran Nilai dan Moral dalam Perkonomian Islam

[6] Dikutip dari http://www.rmol.co/read/2016/03/05/238311/IMM-Gali-Dan-Kembangkan-Potensi-Wirausaha-Kalangan-Muda-

[7] Non Governmental Organisation (Organisasi Non Pemerintahan)

Catatan #PatunganBikinMedia (2): Mencari Formulasi yang Tepat

Kemarin malam, seorang kawan melemparkan sebuah pertanyaan lewat pesan di BBM, “Udah pernah baca buku A9ama Saya Adalah Jurnalisme?”. Saya bisa langsung menebak kemana arah pembicaraannya. Yang akhirnya memaksa saya untuk membuka dan memahami kembali buku bersampul merah marun ini.

Andreas Harsono dalam bunga rampainya tersebut menjelaskan bahwa Jurnalisme Islam adalah suatu yang naif. “Sudahlah enggak usah repot-repot bikin paper soal “jurnalisme Islami.” Orang Madura bilang, “Ndek lakona.” Kayak gak punya kerjaan saja. Ini menghabiskan tenaga untuk sesuatu yang tidak ada,” tulisnya. Sehingga, perlu dipikirkan lebih dalam, format seperti apa yang kiranya tepat untuk media ini.

Berikut saya kutipkan penggalan tulisan Andreas Harsono yang berjudul Quo Vadis Jurnalisme Islami, sebagai berikut:

             Tidakkah Zaim Uchrowi dan Nurul Hamami, keduanya wartawan Republika, yang memiliki target pasar warga muslim, mengatakan sendiri kepada Anda bahwa jurnalisme tidak bisa dibagi-bagi dengan agama. Singkatnya, tidak ada jurnalisme Islami.”
Mari kita lihat argumentasi para ‘pakar’ tersebut!
“…jurnalisme Islam, dapat dimaknakan sebagai sebagais suatu proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan muatan nilai-nilai Islam, serta berbagai pandangan dengan perspektif ajaran Islam kepada khalayaknya. Jurnalisme Islam dapat pula dimaknai sebagai proses pemberitaan atau pelaporan tentang berbagai hal yang sarat dengan dan sosialisasi nilai-nilai Islam dengan mengedepankan dakwah Islamiyah.”
Apa bedanya dengan propaganda? Kalau suatu jurnalisme dikaitkan dengan pemahaman lain, entah itu fasisme, komunisme, kapitalisme atau agama apapun, definisi yang lebih tepat, saya kira, adalah propaganda.
Propaganda adalah suatu peliputan, penulisan serta penyajian informasi di mana fakta-fakta itu disajikan, termasuk ditekan dan diperkuat pada bagian tertentu, agar selaras dengan kepentingan ideologi atau kekuasaan yang memanipulasi komunikasi tersebut.
Jurnalisme adalah bagian dari komunikasi. Namun, tak semua elemen komunikasi adalah jurnalisme. Propaganda maupun dakwah juga bagian dari komunikasi. Namun, menyamakan propaganda dengan jurnalisme, saya rasa akan menciptakan kebingungan yang serius dengan menciptakan kebingungan yang serius dengan daya rusak besar.
Coba kita ganti kata “jurnalisme”  dengan “dakwah” dalam frasa “jurnalisme Islami.”
“…dakwah Islam, dapat dimaknakan sebagai sebagai suatu proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan muatan nilai-nilai Islam, serta berbagai pandangan dengan perspektif ajaran Islam kepada khalayaknya. Jurnalisme Islam dapat pula dimaknai sebagai proses pemberitaan atau pelaporan tentang berbagai hal yang sarat dengan dan sosialisasi nilai-nilai Islam dengan mengedepankan dakwah Islamiyah.”

Kalaupun pada akhirnya impian membuat media Islam ini dianggap terlalu naif untuk diwujudkan, sebagai alternatif, mungkin kita bisa mengambil referensi dari beberapa kanal berikut:

Seperti halnya kanal Selasar.com, wadah yang dijadikan Ideas Marketplace. Tempat dimana ide dipasarkan.  Setiap orang yang memiliki potensi, ide, dan karya, dapat membangun panggung kredibilitas mereka masing-masing. Mereka dapat menawarkan dan juga mempromosikan skill dan ide yang mereka miliki ke khalayak luas. Baik berupa tulisan, audio maupun video.

Apa yang membedakan dengan website lainnya?

Jika portal lain umumnya menyajikan berita dari para jurnalis, kanal ini akan menyajikan gagasan atau opini yang berkaitan dengan hal-hal tertentu. User juga dapat menikmati perdebatan atas isu dan gagasan yang dilakukan oleh para user lain terkait dengan hal-hal tertentu yang telah dihidangkan melalui artikel dari para kontributor, berita dan informasi-informasi khas kanal ini.

Pembeda penting lainnya adalah, kanal ini menyediakan ruang ngobrol dan diskusi yang seru di komentarnya. Interaksi antar kontributor dan user juga sangat dimungkinkan dalam portal ini. Setiap user dapat berpartisipasi aktif dalam setiap hal yang disajikan sehingga suatu pembahasan atas sebuah tema tertentu akan jadi sebuah diskusi serta proses dialektika yang dinamis dan menarik.

Inginnya, media ini juga menjadi sarana para ‘pakar’ dalam memasarkan ide yang dianggapnya paling ideal sebagai alternatif solusi permasalahan umat Islam. Seperti halnya Indonesianreview.com, Kompasiana.com dan kanal-kanal Ideas Marketplace lainnya yang bisa kita adopsi untuk format media ini.

Kata mereka tentang #PatunganBikinMediaIslam

Salah satu pertanyaan yang saya masukan dalam angket Riset Media Islam lalu diantaranya, “Deskripsikan secara singkat, media Islam seperti apa yang Anda inginkan?” Dari sekian responden yang memberi tanggapan, sebagian dari mereka inginnya media ini dijadikan sebagai wadah semua golongan, khususnya anak muda, menyuarakan gagasannya.

Mari simak sedikit ungkapan deskripsi yang digambarkan salah satu responden, “Harapan saya terhadap media online Islam ini, nantinya akan membantu kita semua masyarakat muslim diseluruh dunia, sepaham, se-visi dan misi, juga memiliki arah dan tujuan yang jelas. Media online islam ini sebagai tonggak dari the real of Islam. Di sana tidak hanya terdapat kajian-kajian tentang ke Islaman, tapi juga informasi yang berbobot berkaitan dengan ekonomi, politik, sosial, budaya, dan pendidikan dalam perspektif islam juga ditanggapi dalam perspektif Islam. Kemudian, dijadikan sebagai lahan diskusi kawula muda yang berilmu menanggapi berbagai rintangan yang sedang dihadapi umat Islam saat ini. Pada hakikatnya, harapan saya, media online Islam ini adalah sebuah media yang bisa menjadi motivasi untuk kita umat Islam disamping sebagai lahan dakwah. Syukron,” ungkapnya.

 

Malang, 1 Februari 2016 | @adecsutrisna

Bantu kami mengetahui kebutuhan masyarakat terhadap media Islam dengan mengisi formulir ini: http://goo.gl/forms/2Yp25s2jqe

Atau ingin diskusi lebih jauh seputar #PatunganBikinMediaIslam, bergabunglah dengan official account LINE #PatunganMediaIslam lewat tautan berikut: http://line.me/ti/p/%40jem9629f

Catatan #PatunganBikinMedia (1) : Intip Semangat Kolaborasi Film ‘40 Days in Europe’

40 Days in Europe, sebuah drama layar lebar tentang kisah perjalanan “Mission Imposible” sebuah grup angklung sekolah Indonesia menaklukan daratan Eropa.

Ade Chandra Sutrisna, adecsutrisna.wordpress.com

Film yang diangkat dari buku ini berkisah tentang sekelompok anak muda yang berjuang mengenalkan budaya Indonesia melalui musik angklung. Siapa sangka, angklung yang terlihat sederhana dan bersahaja dapat tampil menggetarkan setiap panggung di negara-negara Eropa. Inilah kisah 35 musisi asal Indonesia yang tak pernah menyerah meski awalnya terancam batal berangkat ke eropa. Namun, berbekal keberanian, kerja keras dan cerdas serta mimpi untuk membuat tim ini sejajar dengan musisi internasional lainnya, tak ada rintangan yang tak dapat dilalui.

Meski tertatih, kelompok musisi yang membawa misi Expand the Sound of Angklung ini terus menebar pesona di seantero Eropa. Berbagai kota mereka taklukkan dengan keindahan alat musik tradisional asli indonesia. Semua terkesan. Semua takjub dengan keajaiban yang bisa didatangkan sebuah instrumen musik. Pada akhirnya, misi budaya ini menegaskan identitas bangsa yang bisa berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lainnya.

Lewat kesuksesan buku tersebut, sebuah rumah produksi profesional berminat mengangkatnya kelayar lebar. Progres film 40 Days in Europe hingga saat ini sampai pada proses open casting di Bandung dan Jakarta yang diikuti 600an peserta. Pembentukan tim angklung sendiri merupakan kolaborasi tim angklung 3 negara. Yakni Bandung, Eindhoven,  dan Angklung Humberg Orchestra.

Saksikan video lengkapnya melalui tautan berikut: 40 Days in Europe 

Melalui situs crowdfunding KitaBisa.com, film ini secara gotong royong digarap. Meski target budgeting yang diinginkan tidak sesuai harapan, yakni hanya mencapai target 6%-an saja.

Kita bisa

Dengan memanfaatkan dukungan visual effect ciamik garapan anak-anak kreatif Bandung: Studio S/VSX dan Sembilan Matahari, sungai Cikapundung disulapnya menjadi landscape ditepian sungai Paris. Productions House besutan anak-anak muda ini juga pernah ikut andil menggarap visual effect project film ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’. Teknologi inilah yang akan digunakan untuk film 40 Days in Europe.

Semangat inilah yang ingin dibangun gerakan #PatunganBikinMedia. Semua boleh berkontribusi dan jadi konseptornya. Anda yang berada di jurusan Informatika, bantu kami melalui web designnya. Anda seorang praktisi di bidang psikologi, bantu kami dengan membuat metode riset yang baik. Anda yang bergelut dengan isu internasional, atau bahkan sedang menempuh kuliah di jurusan Hubungan Internasional, bantu kami memperdalam liputan-liputan seputar dunia Islam. Dengan memberdayakan semua potensi dikalangan umat Islam, saya yakin gerakan ini bukan cuma mimpi di siang bolong. Ceileh.

Berguru ke Mas Gagah

Kita juga musti belajar dari kegigihan Helvi Tiana Rossa memperjuangkannya novel Ketika Mas Gagah Pergi untuk bisa diangkat ke layar lebar.

Terjun langsung sebagai produser dari karya yang telah ia tulis pada 1992, Helvy pun mengaku sempat menemui kesulitan dengan pendanaan untuk film perdananya tersebut. Akhirnya, para pembaca buku ini memutuskan untuk patungan membuat film. Hadir satu gerakan patungan pembaca. Mereka patungan mulai dari Rp 500 dari anak SD hingga ada pula yang menyumbang Rp 100 juta.

Tak hanya berwujud uang. Patungan untuk film yang para pemain utamanya dipilih melalui open casting itu juga berupa bantuan lain, seperti banyaknya pihak yang secara suka rela mau memberikan lagu untuk menjadi soundtrack filmnya.

“Alhamdulillah, perjuangan 12 tahun untuk membuat film ini akhirnya selesai. Gerakan patungan ini dimulai pada awal 2015, saya pergi untuk keliling ke 120 kota,” kenangnya.

Melalui jargon, “Ini film kita! Kita yang buat, kita yang bayarin, dunia yang nonton”. Saya kira bisa kita pakai sebagai jargon pemacu semangat gotong royong gerakan #PatunganBikinMedia ini, “Ini media kita! Kita yang buat, kita yang bayarin, dunia yang baca.”

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut seputar gerakan #PatunganBikinMedia, tambahkan official account LINE #PatunganBikinMedia lewat smartphone anda melalui tautan berikut: http://line.me/ti/p/%40jem9629f

Ikuti survey #PatunganBikinMediaIslam lewat tautan berikut: Survey Khalayak Media Islam

Malang, 29 Januari 2016 | @adecsutrisna

 

Baca juga tulisan sebelumnya: Mimpi #PatunganBikinMedia

Mimpi #PatunganBikinMedia

baruSalam,

Hai! Perkenalkan saya Ade Chandra Sutrisna, mahasiswa peminatan Jurnalistik Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Saya bersama kawan satu jurusan di UMM merupakan pegiat lembaga pers mahasiswa Independen bernamaMediaMahasiswa.com. Saat ini saya menjabat sebagai direktur pemberitaan Media Mahasiswa pusat yang bertanggungjawab membawahi biro-biro kampus yang ada.

Mari kita mulai diskusi ini dengan kegelisahan.

Di tengah ketidakberdayaan umat Islam mengelola dan merekayasa informasi, mulai lah menjamur media-media daring (online) yang katanya berafiliasikan Islam. Sayang, dari sekian media Islam yang ada, pengelolaannya tidak terorganisir dengan cukup baik juga tidak memiliki visi yang jelas. Anehnya, anggapan bahwa media yang mereka buat bisa/sudah mewakili suara mayoritas umat Islam, padahal hanya mewadahi golongannya sendiri.

Saling serang kepentingan, saling sebar fitnah, caci juga praktik takfiri jamak kita temui. Hal ini berdampak pada buruknya citra islam di mata muslim awam, apalagi non muslim, bahwa orang Islam tidak becus mengelola informasi.

Masih hangat dibenak kita tentang praktik ‘pembredelan’ sejumlah media Islam oleh pemerintah. Sekitar 20-an media online di blokir karena dianggap menyebarkan faham radikalisme. (baca: Inilah 20 Situs Islam yang Di Blokir Pemerimtah). Artinya, media Islam dianggap tidak memiliki kredibilitas yang jelas, bahkan justeru mengancam keutuhan NKRI karena mengajarkan paham-paham radikalisme seperti yang saya jelaskan diatas.

Melalui #PatunganBikinMediaIslam tujuan saya jelas; membuat media massa Islam lewat prinsip gotong-royong. Semua orang boleh berkontribusi dan jadi konseptornya. Yang pasti, saya tidak dapat menjanjikan apa-apa kepada anda.

Riset Ini tidak ada kaitannya dengan tugas akhir kuliah (skirpsi) yang sedang saya kerjakan. Ini murni karena dorongan keingin tahuan saya terhadap minat dan kebutuhan masyarakat, khususnya anda sebagai konsumen media terhadap media Islam.

Tertarik? luangkan waktu untuk mengisi kuisioner yang saya sediakan lewat tautan berikut: Klik Disini!

Atau mau berdiskusi lebih jauh dengan saya, bergabunglah bersama grup LINE‪#‎PatunganBikinMedia‬: http://line.me/R/ti/g/0xqu-TKneQ

Terimakasih.

Temukan saya di facebook: Ade Chandra Sutrisna, | Twitter: @adecsutrisna | ID LINE: adechandrasutrisna | Email: adecsutrisna@gmail.com | Nomor Telp. : 081231892950

Mengenal Sosok Imam Suprayogo: Peraih Rekor Muri Konsistensi Menulis di Blog Selama 3 Tahun Tanpa Jeda

Selasa (29/12) lalu, Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Jamaah AR. Fachruddin (UKM-K JF) Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM) berkesempatan bersilaturahmi ke kediaman Imam Suprayogo, tokoh yang dijadwalkan mengisi kuliah umum Refleski Akhir Tahun di Masjid AR. Fachruddin Kamis, (31/12) mendatang.

PROF. DR. H. Imam Suprayogo, pria kelahiran Trenggalek 2 Januari 1951 ini merupakan mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang sekaligus Guru Besar Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang.

Lulusan SDN Trenggalek (1964), SMPN Trenggalek (1967) dan SMAN Trenggalek (1970) ini adalah alumni Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang yang berhasil meraih gelar doktornya dari Universitas Airlangga Surabaya (1998) dalam bidang sosiologi.

Sebelum menjabat di almamaternya, Imam Suprayogo juga pernah menjadi Pembantu Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang (1983 – 1996) dan Wakil Direktur Pascasarjana UMM (1996).

Dalam silaturahmi tersebut, Imam Suprayogo banyak memberikan motivasi seputar kehidupan dan perjuangan. Menurutnya, agama itu substansinya mengajarkan manusia untuk; membaca dan mencipta, berakhlak mulia dan bersatu, menebarkan keadilan juga melaksanakan ritual untuk beramal shaleh.

“Sebenarnya kita mendapatkan ide dan dapat bergerak serta melakukan kegiatan apapun adalah karena ruh. Makannya banyak-banyak minta sama pemilik ruh ini (Allah SWT, red.) untuk diberikan ide dan digerakan kesitu,” terang pria yang telah menulis lebih dari 4000 artikel ini.

Berdasarkan informasi yang kami rangkum dari situs pribadinya; imamsuprayogo.com, suami dari Hj. Sumarti dan bapak dari Akhmad Farid Widodo, Hasan Akhmad Wirawan, Fuad Hasan Wicaksono dan Asmak Putri Kamila ini dikenal sebagai pakar dan ahli dalam pengembangan pendidikan islam, sehingga tercatat sebagai pemimpin pendidikan yang sangat cemerlang oleh MURI Indonesia (2006) dalam memimpin dunia pendidikan Islam.

“Orang besar adalah,” lanjut Imam, “orang yang besar hati dan jiwanya, yang dengan ikhlas dan besar hati rela berjuang demi kebesaran orang lain. Bukan orang pintar, orang berpangkat atau orang yang memiliki jabatan tinggi dan juga bukan orang kaya.” (acs)

Baca Juga:

Akhir Tahun, Mahasiswa Gemakan Shubuh Berjamaah di UMM

Cinta Subuh: Karya ‘Menyerah’ Malah Tuai Berkah